Kuikuti dia dari belakang, langkahnya semakin cepat. Kukejar dia menuju samping, cepat langkahnya tak sedikitpun berhenti. Yang kusangka ia akan bergeming sejenak dan tanyakan kenapa. Yang ada malah kebalikannya. Dia berlari secepat ia bisa berlari dengan kokoh kaki-kaki tak terlihat. Ya, cepat! Seperti kilat menderu-deru yang tengah menangkap desiran angin.
Ingin rasanya kubeberkan guratan senja mengalir di tengah luasnya perairan yang memetamorfosakan warna. Lalu, kupandangi alam kemilau yang tak lagi jernih akibat gemerlap cahaya sore. Padahal, ingin sekali kulukiskan gumpalan waktu di ujung timur yang terus mengalir bagai longsor. Kuharap dia tak mati.
"Berhenti! Kumohon!" pintaku dengan nada tegas, dalam hatiku memelas sangat. Tapi, ia malah terus berlari. Kukejar ia hingga kutemukan ujung bumi. Mencegahnya hingga mau berhenti.
"Berhenti! Hey, kubilang berhenti! Tak bisakah kau dengarkan gema suaraku yang melampaui langkahmu? Aku lelah mengejarmu terus-menerus."
Tiba-tiba dia berhenti. Lalu, keheningan meliputi. Kuharap ia bicara.
"Kenapa kau pergi? Aku mengikuti jejakmu dari tahun kemarin, berharap bisa menemukanmu dan sisa bayangmu yang tertinggal."
"Kukira kau ada maksud lain. Apa isi perkataanmu?"
Lalu diam. Diam lagi.
"Tak tahukah kau kenapa aku mengejarmu? Mencari sosokmu?"
"Tidak."
"Coba tebak."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Untuk apa?"
"Untuk mencari jawaban."
"Siapa yang butuh jawaban. Diriku?"
"Tidakkah kau merasa risih kuikuti dari belakang? Aku memerhatikan jejakmu dan kuikuti ekormu. Ada yang tertinggal di sana." Aku menunjuk tubuhnya dengan leluasa. Aku berusaha mendekat, mencoba mendekat, lalu mendekat, lalu dekat, dan sedekat-dekatnya.
"Kau mau apa?"
"Suka-sukaku."
"Mau apa kau?"
"Urusanku."
"KAU MAU APA?"
"Mengambil jantung dan hatiku."
Ia mengernyitkan dahinya. Tampak jelas satuan garis-garis tak beraturan yang memenuhi dahinya. Otakku diracuni wajah busuknya. Kubayangkan wajah tampannya dalam-dalam. Kumasukkan ke dalam mulutku dan kutelan bulat-bulan. Tenggorokkanku rasanya perih dan bersisik ketika bersentuhan dengan wajah yang semakin hari semakin menua.
Tak kusangka, ia menatapku lekat-lekat. Hampir mati aku dibuatnya. Tatapan serigala yang dulu membuatku jatuh bangun, kini terlihat sungguh memuakkan. Ah, aku tak peduli dan sungguh tak peduli.
"Aku hendak mengambil hatiku."
"Jalang! Apa maksudmu?" Ia menamparku dengan tangan kanannya yang besar dan lebar. Pemandangan biasa yang akan kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Memar, merah, biru, dan melebam. Tubuhku yang mulai peyotlah sasarannya.
Aku yang kesakitan mencoba bangkit berdiri. Kukepalkan tangan kananku sekuat aku mampu dan kutinju keras-keras dadanya yang bidang. Sudah kupikirkan, ia mampu menahan pukulan tanganku yang tak berarti barang sedikitpun di badannya. Merasa sakit seperti digigit semut merah pun tidak. Tidak sama sekali.
"Di sini. Di dalam dada ini kau ambil organ-organ kepunyaanku. Tidakkah kau ingat kalau kau telah mengambil paksa jantungku? Hatiku ikut bersamanya! Sekarang, kuminta mereka kembali!"
"Jangan harap!"
"Mereka milikku utuh!"
"Hah! Kau pasti bermimpi. Jantung apa? Hati apa? Apa yang harus kukembalikan pada perempuan seperti kau, Jalang?!"
"Semua! SEMUA!"
"Cih! Apa yang akan kaulakukan bila aku tak mau mengembalikannya padamu? Kau mau membunuhku? Kau mau memotong nyawaku?"
"Kupaksa kau sampai mau."
"Takkan mempan."
"Bagaimana kalau ampuh? Aku pasti bisa!"
"HAHAHAHA…!!!” Ia tertawa keras menghinaku. "Jantungmu telah retak. Ia hanya mampu berdetak kalau kupompa. Hatimu telah menjadi serpihan-serpihan tak berguna. Seperti serbuk yang akan terbang melayang dibawa dewa angin. Lalu, untuk apa kau minta kembali?"
Aku terdiam. Mencoba mencari rangkaian kata-kata yang tertutup pasir. Aku buta. Aku tuli. Tak bisa kucari rangkaian kalimat yang tepat untuk kulontarkan dan kumuntahkan ke depan wajahnya.
"Sudah kukira, kau takkan bisa menjawabnya!"
"Tunggu! Biarkan aku memutar otakku sejenak karena aku punya alasan."
"Satu... Dua... Ti..."
"Hentikan! Biar kujelaskan."
Kutatap lekat matanya hingga ia bergeming. Kugetarkan aliran-aliran getar halus yang merambati seluruh tubuhnya. Kuberikan pancaran-pancaran Ilahi yang sama sekali tak pernah kuberikan kepada mahkluk lain. Aku menghipnotisnya. Aku menghipnotisnya atas nama alam yang bergaung merdu di tengah lautan, di atas langit kelabu, di dasar laut terbawah, dan di dalam rongga dadanya, tempat di mana jantung dan hatiku tersimpan di sana.
“Badai! Berani-beraninya kau telanjang di depan Matahari, perempuan lain selain aku, belahan jiwamu?” aku menatap ngeri pemandangan di depanku. Hina! Kulihat Badai, lelakiku dan Matahari, selingkuhannya tanpa satu helai pakaian pun yang melekat di tubuh mereka. Kunistakan mereka karena rela bermain api di belakangku.
“Ja-Jalang…”
“Tak perlu lagi kau panggil namaku! Kukutuk kau atas nama langit dan tenah tempat berlindung. Kau teah berdusta, berdusta atas nama cinta yang telah terjaga selama ribuan tahun lamanya. Jahanam kau, Badai!” kutumpahkan linangan air mata yang mengalir deras bagai air terjun. Hatiku bergulung-gulung bagaikan ombak yang menunggu terjangan tsunami.
“Jalang! Kau memang jalang! Hah! Tahu rasa kau sekarang. Sudah kubilang jangan kau paksa aku untuk mengambil separuh hatimu. Kautitipkan jantungmu dan kauselipkan di rongga dadaku. Siapa suruh kau merelakannya untukku? Cukup puas aku merasakan halus mulus tubuhmu! Pergi kau!”
Ia mendampratku hingga aku tak ada lagi harganya di kedua mata buasnya. Ia berbisa. Ia sungguh berbisa. Dibuangnya aku seperti permen karet yang tak ada manis-manisnya sedikitpun dalam mulut baunya. Satu hal yang kutahu, Matahari tersenyum licik. Ia dapat menginjak-injak tubuhku sesuka yang ia mau. Toh, Badai mencintainya dan siapapun berpihak padanya.
“Badai, pandangi gerak bibirku dan camkan perkataanku. Kukira kau ingat janji sumpah serapah yang kau iya-kan.”
“Maksudmu?”
Aku tertawa dengan segala kesinisan yang melambung tinggi melampaui rasa egoisku. Tak sabar aku berucap, “Kan kurobek dadamu yang kekar. Kan kurebut kembali jantung dan hatiku yang dengan rela kuberikan kepadamu dulu. Ingat, jantung dan hatiku telah menyatu dengan jantung dan hatimu. Jangan salahkan aku bila jantungmu berhenti berdenyut dan haitmu berhenti berdetak. Sebab itulah kau…”
Petir menggelegar hebat memekakkan telinga. Tetapi, lamunanku tak sedikitpun buyar. Kekuatanku menghipnotisnya telah sampai pada ujung dunia, tempatku berdiri. Tak perlu waktu lebih lama lagi untuk membuktikan sihir yang kupunya.
“AARRGGHHHH….!!!”
Kurobek dadanya dengan kuku-kuku telanjang, lalu kuambil jantung dan hatiku kembali. Mereka hampir lenyap. Mereka hampir mati di tangan pendosa. Tak setetes pun darah yang mengucur deras dari dada Badai. Siapa yang peduli?
“AARRGGHHHH….!!!”
Ia sudah merebut jantung dan hatiku. Kukira ia akan menyimpannya karena kami telah bersatu dalam cinta. Tapi, sekejap ia rusakkan semuanya karena matanya telah dibutakan cahaya penjuru yang mereka sebut Matahari. Tak ada yang bisa mengalahkan sinar mautnya. Maka, kurebut kembali jantung dan hatiku.
“AARRGGHHHH….!!!”
Tak lama, kusaksikan perlahan ia pergi dan tenggelam di ujung laut. Dunia yang tadinya oranye, berubah menjadi biru dan menua. Dunia yang tadinya cerah, berubah menjadi hitam. Dunia yang tadinya porak poranda, berubah menjadi sunyi. Dunia yang tadinya sibuk, berubah menjadi sesaat lengang. Dunia yang tadinya terus bergerak, berubah menjadi diam. Perlahan... Pasti...
***
Please, write your review about my short story. Just drop your comment(s) on the box. Thank you very much for participating. Really appreciate it.
Lots of love,